Shaf

"Monggo bapak-bapak shaf-ipun dirapetke diluruske supados mboten dilewati setan." Kata imam pagi itu. Entah angin apa, tiba-tiba sang imam sadar akan keharusan untuk melurusrapatkan shaf. Saya tersenyum kecil.
***
Jadi inget, beberapa waktu yang lalu, ketika saya ingin merapatkan shaf, sebagian dari ma'mum memasang wajah benci. Mereka berpikir kalau kaki mereka seakan-akan mau diinjak. Lol. Bahkan teman saya satu kampung ada yang sampai dimarah-marahi di depan jamaah sholat yang lain. Hmm… memang benar sih, ilmu belum sampai kepada mereka. Lagian, sebagian dari kami yang mengetahui (meskipun sedikit) belum berani untuk menyampaikan ilmu itu kepada mereka. Ya wajar, kalo sesuatu yang mereka anggap baru dan nyleneh itu mereka benci. Tapi ada suatu titik temu ketika imam yang berbicara ketika sudah mengetahui sedikit ilmu tersebut, jamaah yang jadi makmum mau tidak mau ya musti nurut :p Sampai sekarang, saya masih penasaran dari mana si imam itu bisa sadar untuk melurusrapatkan shaf. Wallahu a'lam. Semoga kedepannya sih bisa lebih baik lagi lah, dan semoga mereka (termasuk saya) mau belajar lebih dalam😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s